Pasar Los Batu Kandangan Peninggalan Belanda 1937 Tinggal Kenangan

Sabtu, 07 Juli 2012

Amandit Kandangan (Hulu Sungai Selatan) : Kota Pahlawan dan Kota Perjuangan Kalimantan Selatan

Tutupi kajang kayu bapangkih
Andak bungkalang dihiga lawang
Asal Lukloa si naga putih
Tulak manyarang si naga habang

Baca talakin di pakuburan
Dimakani katupat bakuah
Antaluddin jagau Kandangan
Dalas pang hangit kada manyarah

Gantung caramin dianjung kiwa
Ampar di ambin tikar rumbia
Antaluddin gagah urangnya
Nang kita warisi samangat juangnya

Buah pamparawin buah pampakin
Duduk bakadap makan durian
Raksa Yuda wan Antaluddin
Wan Antasari badangsanakan

Kilam kilaman tanah rantauan
Tadangar urkis hati mangganang
Bukhari Kandangan tahan tungkihan
Kontroler Domes sidin cancang

Pina musti sayang wan banih
Kanapa lupa wan pitua nini
Pina musti sayang wan mirah putih
Kanapa lupa wan Hasan Basri

Pandai wasi manampa waja
Ulah sanjata gasan dibagi
Hasan Basri Gubernur Tantara
Pahlawan Nasional nang kita sayangi

Apam batil bagula habang
Wadai kukulih jual diwarung
Hasan Basri tokoh pajuang
Urangnya alim kahada sumbung

Pucuk kalakai gasan lalapan
Masak bajarang wan kacang panjang
Disa Mandapai disa parjuangan
Wadahnya urang tulak manyarang

Karung banih angkut kahulu
Lanting ditanjak wan bilah buluh
Dikampung Ni’ih badiri tugu
Bukti parjuangan malawan musuh

Ka Loksado umpat mambuntel
Lading balati dipinggangnya
Tujuh belas mai proklamasi kalsel
Kita warisi samangat juangnya

Amun dipuai sisarang wanyi
Madunya likat liwar nyamannya
Tujuh belas mai proklamasi ALRI
Baisi samangat pahlawan ampat lima

*Sumber : Pantun Pantun Babahasa Banjar

Kamis, 22 Maret 2012

KANDANGAN, HULU SUNGAI SELATAN

1. Di Kalimantan Selatan produk budaya pada masa bercocok tanam ditemukan pada situs arkeologi yang diteliti oleh balai arkeologi Banjarmasin yaitu situs jambu hilir Kecamatan Kandangan Kabupaten Hulu Sungai Selatan (HSS).
2. Situs jambu hilir sebagai bekas hunian kuno berciri prasejarah tapi masih mempertahankan tradisi neolitik dengan ciri-ciri artefak batu dengan unsur teknologi kapak persegi, manik-manik tanah liat, batu giling, perhiasan emas dan kuningan.
3. Salah satu bukti telah adanya pemanfaatan teknologi logam adalah temuan musi (musa) atau kowi yaitu wadah melebur emas dan kuningan di situs jambu hilir kandangan.
4. Selain musa dan wadah peleburan, menurut informasi penduduk jambu hilir kandangan di sana juga pernah ditemukan topeng emas dan alat-alat logam besi.
5. Ada beberapa produk budaya mesolitikum yang ditemukan, yaitu batu giling dan serpih dari jenis batu rijang dan batu pukul, bersama-sama dengan temuan gerabah di situs jambu hilir kandangan dan berasal dari masa bercocok tanam.
6. Teknologi situs jambu hilir kandangan masih sederhana, walaupun sudah menggunakan roda putar, tatap dan pelandas. Jadi pasirnya tidak di saring dan gerabah yang dihasilkan agak kasar.
7. Asal tempat benda prasejarah museum lambung mangkurat :
• Desa jambu hilir, Kecamatan kandangan
• Desa simpur, Kecamatan simpur
• Desa jambu hulu, Kecamatan padang batung
• Desa jambu hulu muka, Kecamatan padang batung
8. Kehidupan dengan rumah besar yang cara hidupnya seperti tersebut di atas masih terlihat nyata pada suku bukit meratus di Kecamatan Loksado.
9. Di Kecamatan Loksado, dimana dalam satu desa mereka mendirikan balai adat yang sekaligus menjadi tempat tinggal, dengan kamar atau ruangan mengelilingi rumah tengah tempat upacara tersebut. Satu kamar dihuni oleh satu keluarga.
10. Pangeran Tumenggung dari kerajaan Negara Daha mengalami kekalahan, lalu mundur dan bertahan di muara sungai Amandit.
11. Sultan Suriansyah yang sebelum masuk islam bernama Pangeran Samudera adalah pewaris sah dari kerajaan Negara Daha.
12. Daerah teritorial kerajaan banjar yang kedua meliputi daerah Amandit.
13. Di bawah wilayah inti terdapat unit politik yang disebut daerah-daerah kekuasaan termasuk Batang Amandit.
14. Yaitu meliputi Batang hulu, Kandangan, Jambu, Bamban dan Pangambau.
15. Salah seorang belanda yang berusaha keluar untuk pergi mencari bantuan ke Banjarmasin, dibunuh di Sungai raya.
16. Pada bulan September 1859 Demang lehman, bersama pimpinan lainnya seperti Pangeran Muhammad Aminullah, Tumenggung Jalil berangkat menuju Kandangan yang juga dihadiri oleh tokoh-tokoh pejuang dari segala pelosok banua Amandit.
17. Selain itu terdapat pula pahlawan wanita kiai cakrawati yang selalu menunggang kuda yang sebelumnya ikut dalam pertempuran Benteng Gunung Madang di Kandangan bersama Tumenggung Antaludin.
18. Hasil pertemuan bulan September 1859 antara pangeran Hidayat, pangeran Antasari, kiai Demang lehman dan tokoh-tokoh perjuangan lainnya di daerah Kandangan menetapkan pembagian daerah perjuangan dari banua lima sampai dusun atas.
19. Setelah meletusnya perang Amuk Hantarukung, Jenajah Bukhari, Landuk dan Mat amin dimakamkan di kampung Parincahan, Kecamatan Kandangan yang di kenal dengan makam Tumpang Talu.
20. Sedangkan sembilan orang lainnya dihukum gantung oleh belanda, kemudian di makamkan di kuburan Bawah Tandui di kampung Hantarukung, Kecamatan Simpur.
21. Di setiap persimpangan sungai yang strategis dibuat benteng pengawasan wilayah, dengan demikian muncul kota-kota seperti Kandangan dengan Benteng Hamawang di dalamnya.
22. Afdeling Kandangan dengan ibukota Kandangan, terdiri dari Onderafdeling Amandit dan Negara, yang terdiri lagi dengan District Amandit dan District Negara.
23. Onderafdeling Kandangan dengan ibukota Kandangan, diperintah oleh Asisten residen sebagai kepala afdeling dengan dibantu oleh seorang civiel gezaghebber.

Selasa, 27 Juli 2010

HULU SUNGAI SELATAN (KALIMANTAN SELATAN)

KALIMANTAN

Dalam Kitab Negarakertagama Pulau Kalimantan disebut sebagai ” Tanjungpura” meliputi daerah :

* Kapuas-Katingan
* Sampit
* Kuta Lingga
* Kuta Waringin (Kotawaringin)
* Sambas
* Lawai
* Kandangan
* Landa
* Samadang
* Tirem
* Sedu (Serawak)
* Barune (Brunei)
* Kalka
* Saludung
* Solot (Kepulauan Sulu)
* Pasir
* Barito
* Sawaku
* Tabalung (Tabalong)
* Tanjungkutei (Kutai Karatanagara)
* Malano (masyarakat Melanau di Serawak dan Kalimantan Barat)

ISLAM BANJAR HULU

Sangat mungkin sekali pemeluk Islam sudah ada sebelumnya di sekitar keraton yang dibangun di Banjarmasin, tetapi pengislaman secara massal diduga terjadi setelah raja, Pangeran Samudera yang kemudian dilantik menjadi Sultan Suriansyah, memeluk Islam diikuti warga kerabatnya, yaitu bubuhan raja-raja. Perilaku raja ini diikuti elit ibukota, masing-masing tentu menjumpai penduduk yang lebih asli, yaitu suku Dayak Bukit, yang dahulu diperkirakan mendiami lembah-lembah sungai yang sama. Dengan memperhatikan bahasa yang dikembangkannya, suku Dayak Bukit adalah satu asal usul dengan cikal bakal suku Banjar, yaitu sama-sama berasal dari Sumatera atau sekitarnya, tetapi mereka lebih dahulu menetap. Kedua kelompok masyarakat Melayu ini memang hidup bertetangga tetapi, setidak-tidaknya pada masa permulaan, pada asasnya tidak berbaur. Jadi, meskipun kelompok Suku Banjar (Pahuluan) membangun pemukiman di suatu tempat, yang mungkin tidak terlalu jauh letaknya dari balai suku Dayak Bukit, namun masing-masing merupakan kelompok yang berdiri sendiri. Untuk kepentingan keamanan, dan atau karena memang ada ikatan kekerabatan, cikal bakal suku Banjar membentuk komplek pemukiman tersendiri. Komplek pemukiman cikal bakal suku Banjar (Pahuluan) yang pertama ini merupakan komplek pemukiman bubuhan, yang pada mulanya terdiri dari seorang tokoh yang berwibawa sebagai kepalanya, dan warga kerabatnya, dan mungkin ditambah dengan keluarga-keluarga lain yang bergabung dengannya. Model yang sama atau hampir sama juga terdapat pada masyarakat balai di kalangan masyarakat Dayak Bukit, yang pada asasnya masih berlaku sampai sekarang. Daerah lembah sungai-sungai yang berhulu di Pegunungan Meratus ini nampaknya wilayah pemukiman pertama masyarakat Banjar, dan di daerah inilah konsentrasi penduduk yang banyak sejak zaman kuno, dan daerah inilah yang dinamakan Pahuluan. Apa yang dikemukakan di atas menggambarkan terbentuknya masyarakat (Banjar) Pahuluan, yang tentu saja dengan kemungkinan adanya unsur Dayak Bukit ikut membentuknya.

PERANG BANJAR

Penyerangan terhadap Benteng Oranje Nassau merupakan rentetan, titik kulminasi, dan kesatuan gerak, kesamaan maksud, serta kesamaan tujuan dari berbagai gerakan perlawanan rakyat Banjar yang telah dilakukan sebelumnya. Seperti gerakan rakyat di Banua Lima yang dipimpin oleh Tumenggung Jalil, gerakan rakyat di Muning (Rantau) dipimpin oleh Datu Aling, gerakan rakyat daerah Batang Hamandit (Perang Gunung Madang) yang dipimpin oleh Tumenggung Antaluddin (Kandangan), gerakan rakyat daerah Tanah Laut dan Riam dipimpin Demang Lehman (bergelar Kiai Adipati Mangku Negara) dan H. Buyasin (H. Muhammad Yasin), gerakan rakyat daerah Barito, Kapuas, dan Kahayan dipimpin oleh Tumenggung Surapati (bergelar Kiai Temenggung Pati Jaya Raja), dan lain-lain. Karena, keikutcampuran dan keinginan Belanda untuk menguasai Tanah Banjar yang kaya dengan hasil bumi dan tambang bumi dengan monopoli dan kolonisasinya, namun tidak berhasil. Belanda baru berhasil menguasai Tanah Banjar setelah dihapuskannya Kerajaan Banjar secara resmi pada Juni 1860. Konsekuensi penghapusan dan sifat penjajahan Belanda adalah tumbuhnya perlawanan dan perjuangan masyarakat Banjar yang tersebar luas diberbagai daerah untuk merebut dan mempertahankan kedaulatan mereka.

Moral agama memiliki peran yang penting untuk mendorong semangat perlawanan masyarakat Banjar terhadap Belanda, sebagaimana yang terlihat pada:
(1) Gelar yang diberikan kepada P. Antasari, yakni Panembahan Amiruddin Khalifatul Mu’minin yang bercorak keagamaan dan mengandung arti sebagai pembela agama;
(2) Pemberontakan pertama terhadap Sultan Tamjidillah II yang terjadi daerah Amuntai di pusatkan di masjid Batang Balangan;
(3) Perjuangan Datu Aling di daerah Muning Rantau (Maret 1859) menggunakan pendekatan keagamaan untuk menarik dan memotivasi semangat juang rakyat, dan menjadikan masjid pula sebagai sentral perjuangan mereka;
(4) Perjuangan oleh rakyat daerah Amuntai dan sekitarnya bulan Oktober (1861) dipimpin oleh Penghulu Abdul Rasyid juga dimotivasi oleh semangat keagamaan, bahkan dikenal sebagai peristiwa Baratib Beamal. Ataupula pecahnya peristiwa Perang Amuk Hantarukung tahun (1899) di Kandangan yang dipelopori dua bersaudara Bukhari dan Santar murid Gusti Mat Seman yang rajin mengamalkan zikir dan wirid, serta meneriakan pekik Allahu Akbar dalam perjuangan mereka;
(5) Tampilnya kalangan ulama di garda depan perjuangan seperti Penghulu Abdul Rasyid, Buhasin, Abdul Gani, Penghulu (Banua Lima), Haji Buyasin (Pelaihari), Gusti Mat Seman (Barito), dan lain-lain yang memberikan semangat, komando, dan nilai-nilai perjuangan Islam.

ADAT DAN BUDAYA HULU SUNGAI SELATAN

Sudah jadi tradisi masyarakat Kandangan, Hulu Sungai Selatan (HSS) Kalimantan Selatan, apabila pergi selalu ada membawa senjata, biasanya untuk jaga diri dengan senantiasa menyelipkan senjata tajam bila keluar rumah. Budaya sajam (senjata tajam) dan aksi premanisme bagi anak-anak yang baru beranjak dewasa dengan tabiat selalu membawa senjata tajamnya di pinggang mereka dan memungkinkan apabila terjadi perkelahian satu sama lain yang selalu berbuntut dengan kematian. Dalam lingkungan orang dewasa pun masih terdapat adanya figur seperti itu , hanya saja emosi yang tertanam padanya digunakan didalam porsi yang berbeda dikarenakan budaya daerah setempat yang sudah menjadi tradisi dan berakar kuat turut mempengaruhi lingkungan masyarakat Kandangan. Orang Kandangan juga dikenal memiliki sikap dan pendirian yang keras, tingkat solidaritas, kekerabatan, sosial kemasyarakatan dan kekeluargaan mereka sangat tinggi sehingga membawa senjata tajam dianggap sebagai suatu perilaku yang lumrah dan merupakan budaya masyarakat setempat karena sebagai patokan harga diri yang sangat tinggi dan sikap protektif terhadap keluarga. Bila ada keluarga atau kawan yang diganggu orang, mereka siap tampil untuk membela.

Bagi orang yang baru pertama ke Kota Kandangan, akan mengira orang-orang di kota ini pemarah semua, karena gaya dan alunan bicara mereka yang keras dan nyaring. Bila kedaerah pedesaannya, lebih mengerikan lagi. Karena masyarakat pedesaan di kota ini senantiasa menyelipkan senjata tajam bila keluar rumah. Letak geografis dan pola hidup yang keras pada masyarakat Kandangan itu akhirnya membentuk pola dan tatanan hidup orang Kandangan yang harus disesuaikan dengan kondisi alam. Hal tersebut berpengaruh langsung pada pola mata pencarian, yaitu berkebun, berhuma dan berburu. Pola itu akhirnya mengharuskan masyarakat Kandangan senantiasa berlaku protektif dengan membekali diri dengan senjata tajam. Pola hidup berburu dan berkebun pada orang Kandangan, menjadikan kehidupan mereka kental dengan budaya membawa sajam (senjata tajam), dalam hal ini belati. Namun penggunaan belati disini, lebih merujuk kepada upaya untuk survive atau bertahan, karena kondisi alam yang keras. Menurut orang Kandangan, belati adalah teman. Bila tidak membawa belati seakan tidak berteman. Karena menurut keyakinan mereka, hanya belati yang mampu melindungi bila sesuatu terjadi. Sedang kawan bisa saja lari.

Bagi masyarakat Kandangan sangat mudah mendapatkan senjata tajam karena kerajinan pandai besi yang tumbuh dengan banyaknya di Kabupaten Hulu Sungai Selatan. Seperti di Nagara kerajinan membuat parang, mandau, samurai maupun belati diproduksi di sana. Bagi masyarakat Kandangan senjata tajam tidak hanya sekedar alat untuk aktivitas sehari-hari tetapi juga dijadikan souvenir dan bahan pajangan di rumah. Senjata tajam di Hulu Sungai Selatan merupakan perpaduan lintas kecamatan. Besi yang dibuat ialah buatan orang Nagara. Lalu kayu untuk kumpang (sarung) didatangkan dari Kecamatan Loksado, dan yang mendesain kumpang, supaya lebih terlihat menarik, adalah hasil tangan masyarakat di Desa Sarang Halang, Kecamatan Sungai Raya Hulu Sungai Selatan. Nagara yang hingga kini memiliki kemampuan membuat senjata, yang konon ceritanya didaerah itu adalah bekas tentara Majapahit yang tertinggal dan tidak pulang ke negara asalnya dan berasimilasi dengan orang – orang Nansarunai pasca pertempuran besar antara Kerajaan Majapahit – Kerajaan Nansarunai.

TUMENGGUNG

Tumenggung adalah gelar bagi Kepala Daerah (Kepala Distrik) di Jawa dan Kalimantan. Seorang Tumenggung seringkali juga merupakan seorang Kepala Suku di wilayahnya yang biasanya merupakan suatu Daerah Aliran Sungai (DAS) dengan gelar Kiai Tumenggung. Seorang bangsawan seringkali juga menjabat sebagai kepala daerah sehingga namanya menjadi Raden Tumenggung atau Pangeran Tumenggung. Sampai sekarang gelar Tumenggung masih dipakai sebagai gelar Kepala Suku Dayak di Kalimantan Tengah, yang membawahi beberapa Demang Kepala Adat (kademangan).

Beberapa tokoh yang memakai gelar Tumenggung :

* Tumenggung Surapati, pejuang Perang Banjar di daerah Barito (Perang Barito)
* Tumenggung Jalil (Tumenggung Macan Negara), pejuang Perang Banjar.
* Tumenggung Cakrawati, tokoh pejuang wanita dalam Perang Banjar pengikut Pangeran Antasari berasal dari distrik Riam Kanan, selalu berpakaian laki-laki.
* Tumenggung Antaludin, tokoh pejuang dalam Perang Banjar di distrik Amandit Kandangan.
* Tumenggung Jayakarti, tokoh suku Dayak Maanyan yang diangkat Belanda sebagai kepala Distrik Dusun Timur.

TOKOH SEJARAH BANJAR

Nama-nama seperti Lambung Mangkurat, Sultan Suriansyah, Sultan Adam, Pangeran Hidayatullah, Pangeran Antasari, Gusti Muhammad Seman, agaknya sudah sangat familiar kita dengar.

Selain itu juga ada nama-nama semisal, Panglima Bukhari salah seorang pejuang Perang Banjar yang memimpin perlawanan rakyat yang disebut Perang Amuk Hantarukung. Ada Ratu Zaleha tokoh emansipasi wanita di Kalimantan, Demang Lehman, Tumenggung Jalil, panglima perang dalam Perang Banjar dengan basis pertahanan di Banua Lima, pedalaman Kalsel, Penghulu Rasyid, seorang ulama yang bangkit bergerak berjuang mengangkat senjata melawan penjajah Belanda, Tumenggung Antaludin, Panglima Perang dalam Perang Banjar dengan pusat perjuangan di kawasan Gunung Madang di kabupaten HSS, Aluh Idut, pejuang perintis kemerdekaan, perempuan perintis organisasi perempuan Kandangan, Kalsel, dan Panglima Batur seorang panglima suku Dayak dalam Perang Banjar yang berlangsung di pedalaman Barito.

Ada lagi P.M. Noor, pencetus pembuatan proyek Sungai Barito yang salah satu gagasannya adalah pembangunan PLTA Riam Kanan. Dr. Murjani, Syamsuddin Noor, Anang Adenansi, Anshari Saleh, Aberani Sulaiman, Budhigawis, H. Damanhuri, atau Hasanudin HM., pahlawan Ampera pertama Kalsel.

Dari sederet nama pahlawan nasional yang tertera ada dua orang pahlawan nasional yang berasal dari Banjarmasin, yaitu Pangeran Antasari dan Brigjen Hasan Basery. Pangeran Antasari dan Brigjen Hasan Basery merupakan dua tokoh emperik dan hero yang hidupnya berbeda masa akan tetapi memiliki kesamaan, yaitu pelawan terhadap penjajah. Semboyan “Waja Sampai Kaputing” terus memberi semangat kepada seluruh generasi muda di banua agar tetap berkarya dalam bidang apapun yang digeluti.

HULU SUNGAI

Eks Kabupaten Hulu Sungai atau Banjar Hulu adalah wilayah di sepanjang daerah aliran sungai (DAS) Negara (sungai Bahan) di provinsi Kalimantan Selatan. Pada masa pemerintahan Hindia Belanda, wilayah ini merupakan Afdeeling Oloe Soengai yang beribukota di Kandangan (sekarang ibukota Hulu Sungai Selatan). Wilayah Hulu Sungai sekarang terdiri 6 kabupaten yaitu Hulu Sungai Selatan, Hulu Sungai Tengah, Hulu Sungai Utara, Balangan, Tabalong dan Tapin. Sekarang ini wilayah ini disebut juga Banua Enam artinya wilayah yang terdiri dari 6 daerah (kabupaten).

Pada masa Kerajaan Banjar wilayah Hulu Sungai terdiri 2 daerah provinsinya yaitu Banua Ampat dan Banua Lima. Banua Ampat artinya provinsi yang terdiri 4 lalawangan (distrik), sedangkan Banua Lima artinya provinsi yang terdiri 5 lalawangan (distrik). Banua Lima pada masa pemerintahan Sultan Adam Alwazikoebillah dipimpin oleh Kyai Adipati Danoe Radja, iparnya sendiri yaitu saudara dari Nyai Ratu Komalasari, permaisuri Sultan Adam. Setiap lalawangan dipimpin oleh pejabat yang bergelar Kyai Tumenggung.

Rabu, 30 Juni 2010

Pers yang Lahir di Kandangan

Disamping koran-koran perjuangan di masa hidupnya cukup lama seperti majalah Republik dan Harian Kalimantan Berdjuang, maka ada beberapa koran lainya yang lahir di Kandangan, sehingga menimbulkan semacam kesan tentang besarnya peranan kota Kandangan dalam melahirkan pers yang menyuarakan pembelaan dan mempertahankan Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia. Kesan-kesan dimaksud antara lain lahir dari keberanian tokoh-tokoh pers di daerah tersebut.

Diantaranya tindakan berani yang telah dilakukan pimpinan harian Sinar Hoeloe Soengai, yang berani memutar balikkan haluan media massa tersebut dari yang seharusnya ditugaskan penguasa setempat untuk menyuarakan kepentingan Belanda menjadi pers yang menyuarakan dan membela bahkan memberikan fasilitas-fasilitas bagi kepentingan para pejuang kemerdekaan, dan juga beberapa kesan lain yang tegas dan berani ditampilkan oleh dua media massa harian Kalimantan Berdjuang dan majalah Republik seperti yang diuraikan di atas.

Beberapa media massa lainya yang tercatat lahir di kota Kandangan ini adalah :

1. Mingguan Samarata, terbit pada tahun 1946 di bawah pimpinan Saberi Tobing dan Saberi Oetis. Mingguan ini hanya dapat bertahan terbit beberapa bulan saja.

2. Menyusul kemudian terbit majalah bulanan Piala pada tahun 1947 di bawah pimpinan Maseri, S.M. Darsel dan Masdan Rozani. Majalah ini sempat terbit dengan tiras sebanyak 500 eksemplar. Tetapi nasibnya hanya dapat bertahan terbit beberapa bulan saja.

3. Sebuah majalah wanita bernama Pedoman Poeteri yang terbit pada tahun 1947 di bawah pimpinan H. Roehajah B. Majalah yang terbit sebulan sekali ini dicetak dalam bentuk stensilan oleh percetakan Republik. Redaksi dan administrasi majalah ini beralamat di Jalan Parindra Kandangan. Terbitan pertama majalah ini bertanggal 3 Februari 1947 bertepatan dengan tanggal 12 Rabiul Awal 1366 H. Majalah keputerian yang dijual eceran f.1,50 per eksemplar ini diselenggarakan penerbitannya dengan susunan kepengurusan :
Sidang Pengarang terdiri dari : H. Roehajah B dan Maserah, sedangkan Tata Usaha adalah : Siti Roespinah dan Siti Maslara.
Majalah ini dapat bertahan terbit cukup lama, dan baru berhenti pada tahun 1949 sehubungan dengan kepindahan keluarga H. Roehajah B mengikuti suami yang sejak tahun 1949 berdomisili di Amuntai.

4. Di samping mengasuh majalah keputerian tersebut di atas H. Roehajah B juga memimpin penerbitan majalah anak-anak bernama Soeloeh. Majalah ini terbit sekali sebulan. Penerbitnya adalah "Taman Pengetahuan" beralamat redaksi dan administrasi di Jalan Masjid 143 B Kandangan. Penerbitan yang pertama bertanggal 1 Januari 1948. Majalah ini berisi tulisan-tulisan ilmu pengetahuan serta memuat hasil-hasil karya anak-anak dalam bentuk prosa dan puisi. Percetakan yang menerbitkannya adalah Typ S.H.S Kandangan. Harga langganan tiap bulan/pernomor tercantum sebesar f. 0,60. Berakhirnya penerbitan majalah Soeloeh ini bersamaan dengan berakhirnya Pedoman Poeteri yakni ketika H. Roehajah B selaku pimpinan media massa ini pindah berdomisili ke Amuntai pada tahun 1949.

5. Sebuah majalah bulanan Majelis Ulama Islam Kandangan bernama Madjlis telah terbit dalam tahun 1948. Penerbitan majalah yang memuat masalah-masalah ke Islaman ini berlangsung setiap tanggal satu bulan Arab/Hijriah. Majalah ini sudah tampil dalam bentuk cetakan. Percetakannya dilakukan oleh Drukkerij "Sinar Hoeloe Soengai". Pimpinan penerbitan adalah Mohammad Arsjad, sedangkan alamat penerbit adalah kantor Majelis Ulama Islam Hulu Sungai di Kandangan. Majalah ini memasang harga langganan sebulan/satu eksemplar adalah f.1,-

Senin, 24 Mei 2010

Kandangan, Hulu Sungai Selatan

Kali ini saya tidak akan membuat penjelasan panjang lebar dalam artikel yang ke 5 ini, tapi saya akan menjelaskan point-point secara garis besarnya saja.Yang intinya supaya kawan-kawan yang belum tahu menjadi jelas dan yang sudah tahu menjadi ingat kembali supaya tidak hilang di telan zaman yang semakin maju.

1. Tahukah kalian bahwa nama Barito, Kandangan dan Tabalong di propinsi Kalimantan Selatan sudah ada di dalam kitab Negarakertagama karangan Mpu Prapanca pada tahun 1365 M.

2. Kenapa Kandangan di sebut Bumi Antaluddin ? Karena Antaluddin diambil dari nama seorang tokoh pahlawan dalam perang madang untuk mempertahankan benteng di gunung madang Kandangan pada tahun 1860 M.

3. Wisata alam Loksado dan kolam pemandian air panas Tanuhi adalah tempat rekreasi yang sangat sering dikunjungi masyarakat Kandangan dan sekitarnya.

4. Tahukah kalian di lapangan tenis Tumpang Talu di Kandangan dulunya adalah tempat pemakaman orang Belanda dan orang Cina.

5. Kuliner Kota Kandangan yang sangat sayang kalau dilewatkan ketika anda berkunjung ke Kandangan adalah Ketupat Kandangan, Dodol Kandangan dan Lamang Kandangan.

6. Tahukah kalian kalau makan Ketupat Kandangan di Kota Kandangannya sendiri sudah jadi tradisi turun temurun ketika memakannya langsung di remas-remas pakai tangan tanpa menggunakan sendok.

7. Saya sangat senang untuk Wikipedia Indonesia, karena Dodol Kandangan di jadikan salah satu dari berbagai macam dodol di Indonesia yang mempunyai ciri khas tersendiri.

8. Mau tahu kelebihan Lamang Kandangan? Lamang Kandangan bisa bertelur di dalamnya.Maksudnya Lamang Kandangan ada ciri khas tersendiri dengan ada telor asin di dalamnya, juga rasa lemak lamangnya yang lain dari yang lain.

9. Selain di Jawa dengan Karto Soewiryo, Sumatera dengan Daud Bereuh dan Sulawesi dengan Kahar Muzakarnya, di Kandangan Kalimantan Selatan juga pernah terjadi peristiwa Gerakan Darul Islam atau DI/TII untuk mendirikan Negara Islam.Di Kandangan Pasukan DI/TII itu dikenal masyarakat dengan Gerombolan Pemberontak Ibnu Hajar,yang di pimpin oleh Ibnu Hajar atau Angli yang berasal dari Ambutun, Kandangan.

10. Apakah kalian pernah memperhatikan di tiap Kota di Kalimantan Selatan ini ada memiliki patung-patung, dan di Kota Kandangan sendiri ada patung tentara(sepengetahuan saya patung di tiap-tiap kota itu punya makna tersendiri akan kotanya).

11. Mungkin belum banyak yang tahu bahwa Pahlawan Nasional Kedua Kalimantan Selatan setelah Pangeran Antasari yang di akui Pemerintah Indonesia adalah Brigjen H. Hasan Basry sebagai Bapak Gerilya Kalimantan.Dan beliau sendiri adalah orang Padang Batung, Kandangan yang dimakamkan di bundaran Liang Anggang,Banjarbaru.

12. Itulah kenapa seharusnya generasi muda di Kandangan bisa meneladani beliau dengan semangat perjuangannya memerdekakan Kalimantan Selatan,kita boleh bangga karena tiap jalan di Kota-kota di Kalimantan Selatan selalu menggunakan Nama beliau,contohnya Jl.Brigjen H. Hasan Basry di kayu tangi, Banjarmasin dll.

13. Tapi tahukah kalian bahwa Markas Yonif Tentara 621 Manuntung di Kandangan itu dulunya adalah sebuah benteng yang penuh dengan sejarah tentang perjuangan Rakyat Kandangan melawan penjajah Belanda, dan dikenal dengan Benteng Hamawang.

14. Bersyukurlah warga Kandangan karena jasa-jasa Dak'wah tanpa pamrih Datu Taniran, Datu Balimau dan Para Habaib yang dikuburkan di Lumpangi, sehingga menjadikan Islam Mayoritas Di Kota Kandangan.

15. Tahukah kalian arti dari nama asrama Kandangan dimana kawan-kawan kita yang menuntut ilmu mendiaminya seperti asrama Amuk Hantarukung, asrama Rakat Mufakat atau asrama Bukhari.

16. Amuk Hantarukung adalah sebuah peristiwa bersejarah di Kandangan, dimana Bukhari seorang pahlawan di desa Hantarukung mengadakan pemberontakan secara membabi buta terhadap Belanda yang lebih dikenal dengan Perang Amuk Hantarukung 19 September 1899.

17. Masyarakat Kandangan harus di ingatkan kembali bahwa Kuburan Tumpang Talu di Parincahan itu adalah makam para pahlawan dalam perang Amuk Hantarukung, kenapa namanya Tumpang Talu, karena orang yang di makamkan di situ adalah tiga orang yaitu Bukhari, Santar dan Matamin.

18. Selain Tumpang Talu ada juga makam pahlawan yang jarang di ingat orang di Kandangan yaitu makam Datu Ning Bulang di Durian Tilai, makam Aluh Idut di tinggiran dan makam Datu singakarsa di pandai, Kandangan.

19. Kandangan adalah Kabupaten tertua di Kalimantan Selatan, karena Kandangan adalah kota dimana diproklamirkan atau dibacakannya Teks Kemerdekaan Wilayah Kalimantan dari Penjajah Belanda oleh Tentara ALRI Divisi IV Pertahanan Kalimantan pada tanggal 17 Mei 1949 yang dipimpin oleh Brigjen H. Hasan Basry di desa Ni'ih.Dan Monumen 17 Mei itu terletak di desa Mandapai Kandangan.

20. Mesjid Ba'angkat (Mesjid Su'ada) di Wasah Kandangan adalah mesjid peninggalan salah seorang zuriat Syekh Maulana H. Muhammad Arsyad Al Banjari ( Datu Kalampayan ) yaitu Al Allamah Syekh H Abbas.Dan anda bisa melihatnya langsung ketika Adzan Maghrib di antv setiap harinya.

21. Dengan berendam dan merasakan hangatnya air panas Tanuhi yang masih alami merupakan pilihan yang tepat untuk menghilangkan rasa penat dan mengembalikan kebugaran tubuh anda setelah beraktifitas.

22. Arung Jeram Balanting Paring (Bambo Rafting) dengan menyusuri sungai Amandit mungkin bisa juga jadi alternatif lain untuk anda yang menyukai tantangan menaikkan adrenalin jiwa petualangan.

23. Untuk yang suka melihat air terjun di Loksado juga terdapat air terjun Haratai, air terjun Uring, air terjun Tinggiran Hayam dan air terjun Ba’angin.

24. Di Loksado juga terdapat Hutan Raya Kadayang yang akan menyuguhkan kepada anda panorama alam yang sangat indah seluas mata memandang.

25. Nikmati juga Gunung Kantawan yang sangat mempesona bila di pandang dari sudut manapun selama anda melakukan perjalanan menuju Loksado.

26. Penduduk Loksado terdiri dari penduduk asli (Etnis Dayak Bukit) dan Etnis Banjar yang telah lama menetap di sana.

27. Etnis Bukit yang masih beragama Kaharingan biasanya tinggal dalam Balai, yaitu rumah panggung yang besar yang di diami oleh beberapa Kepala Keluarga, seperti Balai Malaris, Balai Kamiri, Balai Haratai, Balai Kacang Parang dll.

28. Upacara-upacara adat biasanya dilaksanakan 3x dalam setahun, yaitu berupa upacara ritual untuk memohon keberuntungan atau sebagai rasa puji syukur menurut kepercayaan Kaharingan yang mereka anut.

29. Upacara Adat Suku Dayak Loksado yang paling meriah adalah upacara sehabis panen yang di sebut dengan Aruh Ganal atau Bawanang , dan merupakan salah satu Kalender Wisata Kalimantan Selatan.

30. Menginap dalam balai sambil mengamati tata cara kehidupan mereka (Etnis Bukit) adalah sebuah pengalaman yang mengesankan dalam hidup anda.

31. Untuk tempat bermalam yang lain Pemerintah Hulu Sungai Selatan sudah menyediakan Cottage di Pemandian Air Panas Tanuhi.

32. Aruh Basambu, Aruh Bawanang Lalaya dan Aruh Bawanang Banih Halin merupakan warisan tradisi Suku Dayak Meratus sebagai tanda ikatan emosional dan rasa syukur pada Alam.

33. Aruh Adat Suku Dayak Meratus diiringi dengan berbagai tarian seperti Batandik Balian, Kanjar dan Bangsai.

34. Aruh Ganal juga dilengkapi peralatan seperti Gelang Hiang, Serunai, Kapur, Manyan,Kambang Lilihi dan berbagai macam sesaji.

35. Tari Kurung-kurung adalah Tarian khas Suku Dayak di Loksado yang keberadaannya harus terus dilestarikan.

36. Di Gunung Batu Bini desa Batu Bini Kandangan terdapat goa Kelelawar yang banyak di hiasi oleh stalakmit dan stalaktit yang sangat indah, dan juga terdapat beberapa buah patung binatang dan relief-releif tentang legenda seorang anak yang durhaka terhadap ibunya.

37. Di Gunung Batu Laki desa Malutu Kandangan juga terdapat goa Berangin dimana angin berhembus dari mulut goa yang didalamnya di hiasi ornamen-ornamen yang eksotik, di bawahnya terdapat kurungan yang konon penghuninya adalah ikan yang sangat besar yaitu Ikan Tapah.

38. Di desa Telaga Langsat Kandangan juga terdapat Goa Mandala yang tidak kalah cantik dengan Goa Kelelawar di batu bini dan Goa Berangin di batu laki.

39. Desa Bamban di Kandangan juga memiliki cemilan yang khas yaitu Kerupuk Bamban,di tambah grup musik unik yang sekarang makin jarang dimainkan yaitu Orkes Bamban.

40. Di Hamalau Kandangan ada sebuah desa bernama Telaga Bidadari, dimana di sini terdapat sumur atau pemandian yang di percaya masyarakatnya pernah turun 7 orang Bidadari untuk mandi.

41. Di Lukloa Kandangan juga terdapat teluk di bawah jembatan yang di aliri Sungai Amandit, dimana terdapat kisah masyarakat Si Rintik dan Si Ribut yaitu kisah tentang Naga Merah dan Naga Putih yang saling bertarung dengan nama Datu Ningkurungan.

42. Di kampung Ulin Kandangan juga terdapat legenda dimana dulunya di situ terdapat pohon Ulin yang sangat besar dan tinggi,dan hanya dapat dirobohkan oleh satu orang yang bernama Datu Ulin.

43. Selain cerita tentang Datu Ulin, juga dapat kita temui di Desa Ulin yaitu Balai Amas yang isinya Batu Beranak,dimana menurut masyarakatnya batu tersebut terus bertambah banyak dengan sendirinya.

45. Di desa Hamawang juga terdapat cerita masyarakat tentang Datu Hamawang atau Datu Bungkul (karena selalu membawa Parang Bungkul) , setiap tahun para keturunannya selalu mengadakan haulan secara besar-besaran termasuk Ir H. M. Said (Mantan Gubernur KALSEL). Dengan mengenang jasa beliau sebagai pejuang dan pendiri Mesjid Quba di desa Hamawang.

46. Untuk orang yang ingin membuat Pedang, Parang, Mandau, Samurai atau Alat-alat Besi yang lainnya bisa langsung datang ke Desa Sungai Pinang di Nagara, dan Untuk kerajinan membuat Sarung (Kumpang) dan Hulunya bisa langsung datang ke Desa Sarang Halang Kandangan.

47. Rakat Mufakat adalah Kalimat yang ada pada lambang daerah Hulu Sungai Selatan.

48. Kalimat Kandangan Cing ai selalu di identikkan bahwa yang bersangkutan berasal dari Kandangan, walaupun terkadang makna dari kalimat tersebut berkonotasi negatif yaitu bahwa orang tersebut Jagau (Jago).

49. Tahukah kalian bahwa Dodol Kandangan sudah masuk rekor MURI pada Ulang Tahun Kota Kandangan ke 58 pada tahun 2008 sebagai Dodol Terpanjang yang pernah dibuat di Indonesia.

50. Sedangkan pada perayaan Ulang Tahun Kota Kandangan yang ke 59 pada Tahun 2009 kemarin yang disuguhkan adalah Lemang yang sangat panjang yang diletakkan di lapangan Lambung Mangkurat Kandangan.

Demikian Informasi di seputar Kota Kandangan, paling tidak ini bisa menambah sedikit pengetahuan kepada kita dan mengingatkan kembali akan sejarah Kota Kandangan yang terus berkembang.

Sabtu, 23 Januari 2010

Wisata, Kuliner dan Sejarah di Seputar Kota Kandangan

Katupat Kandangan, dodol kandangan dan lamang kandangan merupakan makanan khas kabupaten hulu sungai selatan sebagai kuliner yang sangat sayang jika anda tidak mencicipinya apabila berkunjung di Kandangan.

Loksado adalah salah satu kecamatan yang ada di Kabupaten Hulu Sungai Selatan. Secara Administrasi terbagi atas 14 buah desa, dan desa Loksado sebagai pusat pemerintahannya yang berjarak 39 Km dari Kota Kandangan atau 174 KM dari Kota Banjarmasin.

Penduduk Loksado terdiri dari penduduk asli ( Etnis Dayak Bukit ) dan Etnis Banjar yang telah lama menetap lama di sana. Etnis Bukit tersebut biasanya tinggal dalam “Balai”, yaitu rumah panggung yang besar dan didiami oleh beberapa Kepala Keluarga (antara 7 hingga 40 KK)

Upacara-upacara adat biasanya dilaksanakan 3x dalam setahun, yaitu berupa upacara ritual untuk memohon keberuntungan atau sebagai rasa puji syukur menurut kepercayaan yang mereka anut, “Kaharingan”. Dari semua upacara tersebut yang paling meriah adalah upacara sehabis panen yang disebut dengan “Aruh Ganal” ( Bawanang ) yang mana dilaksanakan sekitar bulan Juli, dan merupakan salah satu Kalender Wisata Kalimantan Selatan.

Aruh basambu, aruh bawanang lalaya dan aruh bawanang banih halin merupakan warisan tradisi suku dayak meratus sebagai tanda adanya suatu ikatan emosional terhadap alam yang telah memberi kesuburan tanah leluhur mereka sehingga bisa dimanfaatkan untuk bahuma tugal (berladang)

Aruh adat suku dayak meratus diiringi dengan berbagai tarian seperti batandik balian, kanjar dan bangsai dilengkapi dengan properti gelang hiang, serunai, kapur, manyan, kembang lelehi dan bermacam sesaji untuk persembahan.

Berpetualang menikmati keindahan alam hulu sungai selatan khususnya kawasan loksado akan memberikan pengalaman baru yang tidak dapat ditemui di daerah lain, air terjun haratai, uring dan ba’angin yang indah, di balut dengan rimbunnya hutan tropika yaitu hutan raya kadayang, maka akan sangat sayang jika tidak dikunjungi, melihat geliat masyarakat lokal dengan menggunakan rakit bambu mengarungi terjalnya jeram-jeram sungai amandit sambil menikmati indahnya panorama alam pegunungan, merupakan tantangan untuk sekedar memompa sedikit adrenalin anda ketika ikut menyusuri sungai amandit dengan lanting paring.

Hulu Sungai Selatan dikenal sebagai kabupaten yang tertua di Kalimantan Selatan dengan kultur budaya yang religius menyimpan beragam keunikan budaya dan sejarah. Peristiwa Proklamasi Gubernur Tentara ALRI divisi IV pertahanan Kalimantan merupakan pernyataan sikap rakyat di Kalimantan Selatan untuk tetap dalam kesatuan NKRI yang terjadi di desa Ni’ih Kabupaten Hulu Sungai Selatan dibawah pimpinan Pahlawan Nasional ke 2 Kalimantan Selatan sesudah Pangeran Antasari yaitu Brigjen H. Hasan Basry.

Monumen 17 Mei 1949 terletak di Desa Mandapai yang berjarak sekitar 10 Km dari Kandangan. Monumen menyerupai bentuk perahu, yang mana terdapat beberapa relief tentang perjuangan rakyat Kalimantan di beberapa tempat. Di tempat inilah pada tanggal 17 Mei 1949 diproklamirkannya Kemerdekaan Wilayah Kalimantan dari Penjajah Belanda.

Rabu, 20 Januari 2010

Ksatria Baja Hitam atau Kamen Rider


Kamen rider memiliki konsep awal berbentuk serangga. Almarhum Ishinomori sengaja mengambil bentuk serangga belalang karena mungkin menurut dia belalang itu serangga pemberontak, dan menginginkan kebebasan. selain kuat bertahan hidup di alam liar juga memiliki senjata ampuh andalannya yaitu lompatannya yang tinggi dan cepat . ini mungkin yang menjadi konsep 'hissatsu no attack'rider kick yang fenomenal itu. Kamen rider yang meggunakan konsep belalang diantaranya ichigo, nigo, V3, black RX, shadowmoon, ZO, J, Shin Kamen rider, gills, the First, kickhopper dan punchopper
Hingga sequelnya rider mulai mengambil konsep serangga lainnya seperti kumbang badak atau 'kabuto mushi'. Dalam dunia serangga, 'kabuto' merupakan serangga yang terkuat, Karena mampu mengangkat beban yang 100 kali lipat lebih berat daripada bobot tubuhnya. Banyak yg menjuluki kabuto adalah 'traktornya' serangga, atau serangga dgn persenjataan berat. namun serangga kabuto jarang aktif terbang, dibandingkan saudaranya 'kuwagatta', kumbang tanduk capit yang agresif dan plg doyan bertarung utk memperebutkan betina. kuwagatta plg aktif terbang namun lemah dari segi kekuatan bila dibandingkan dgn kabuto. Kamen rider yang menggunakan konsep kumbang tanduk diantaranya stronger, kuuga, agito, kino agito, G3-X, blade, garren, kabuto, gattack, heracrus, ketaros, dan caucasus