Pasar Los Batu Kandangan Peninggalan Belanda 1937 Tinggal Kenangan

Kamis, 05 November 2026

KANDANGAN KOTA PETARUNG

 

KANDANGAN KOTA PETARUNG

Menelusuri Jejak Keberanian, Kepahlawanan, dan Jiwa Pejuang Urang Banua

Kandangan, Hulu Sungai Selatan, Kalimantan Selatan

Kandangan bukan sekadar sebuah kota kecil di jantung Hulu Sungai Selatan. Di balik kehidupan masyarakatnya yang religius, ramah, dan menjunjung tinggi adat istiadat, Kandangan menyimpan sejarah panjang tentang keberanian, perjuangan, dan semangat pantang menyerah.

Julukan Kandangan Kota Petarung bukan semata-mata menggambarkan masyarakat yang memiliki keberanian dalam menghadapi pertarungan fisik. Lebih dari itu, julukan ini mencerminkan karakter masyarakat yang memiliki jiwa pejuang, harga diri, keteguhan prinsip, serta keberanian mempertahankan tanah kelahiran.

1. Kandangan dan Sejarah Perlawanan

Sejarah Hulu Sungai Selatan tidak dapat dipisahkan dari perjuangan rakyat Banjar melawan penjajahan Belanda.

Pada masa Perang Banjar, kawasan Hulu Sungai menjadi salah satu wilayah penting dalam perjuangan rakyat mempertahankan kedaulatan dan kehormatan tanah Banua.

Salah satu peristiwa bersejarah adalah perlawanan rakyat Hantarukung pada September 1899. Peristiwa yang dikenal sebagai Amuk Hantarukung menjadi bukti bahwa keberanian rakyat Hulu Sungai Selatan telah tercatat dalam perjalanan sejarah perjuangan Kalimantan Selatan.

Perlawanan tersebut memperlihatkan bahwa masyarakat Banua tidak mudah menyerah ketika menghadapi penindasan.

2. Parang Bungkul: Simbol Keberanian Urang Kandangan

Berbicara tentang Kandangan Kota Petarung, kita tidak bisa melupakan Parang Bungkul.

Parang Bungkul merupakan senjata tradisional yang memiliki bentuk khas dengan ujung melengkung atau membungkul. Bagi masyarakat Hulu Sungai Selatan, parang ini bukan hanya alat untuk bekerja, tetapi juga memiliki nilai sejarah dan budaya.

Pada masa lalu, parang menjadi bagian dari kehidupan masyarakat, baik untuk membuka lahan, bekerja di kebun, maupun sebagai alat pertahanan diri.

Parang Bungkul juga memiliki kedudukan istimewa dalam identitas daerah. Senjata tradisional ini menjadi salah satu unsur lambang Kabupaten Hulu Sungai Selatan sejak 5 September 1965.

Nilai yang terkandung di dalamnya adalah sifat kepahlawanan dan jiwa membangun.

Dengan demikian, Parang Bungkul dapat dipandang sebagai simbol keberanian, ketangguhan, dan semangat membangun masyarakat Kandangan.

3. Bakuntau dan Tradisi Bela Diri Banua

Kandangan juga memiliki hubungan erat dengan perkembangan seni bela diri tradisional Banjar, yaitu kuntau.

Kuntau bukan sekadar seni mempertahankan diri, melainkan bagian dari warisan budaya yang diwariskan antargenerasi.

Di Hulu Sungai Selatan terdapat sejumlah perguruan kuntau. Salah satu yang dikenal dalam sejarah perkembangan kuntau di daerah ini adalah Perguruan Jasa Datu di Kandangan.

Seni bela diri tersebut mengajarkan ketangkasan, kedisiplinan, keberanian, pengendalian diri, dan penghormatan kepada guru.

Inilah salah satu gambaran bahwa budaya petarung di Kandangan tidak hanya berbicara tentang kekuatan fisik, tetapi juga tentang ilmu, latihan, dan kehormatan.

4. Jiwa Petarung dalam Perjuangan Kemerdekaan

Semangat perjuangan masyarakat Kandangan terus terlihat pada masa revolusi kemerdekaan Indonesia.

Salah satu tokoh penting dari Kalimantan Selatan adalah Brigadir Jenderal Hasan Basry, pemimpin perjuangan ALRI Divisi IV Pertahanan Kalimantan.

Perjuangan rakyat Kalimantan Selatan mencapai salah satu tonggak penting melalui Proklamasi 17 Mei 1949 yang menyatakan Kalimantan sebagai bagian dari Republik Indonesia.

Peristiwa ini menjadi pengingat bahwa semangat mempertahankan tanah air merupakan bagian penting dari sejarah perjuangan masyarakat Banua.

Kandangan dan wilayah Hulu Sungai Selatan memiliki tempat tersendiri dalam perjalanan sejarah tersebut.

5. Petarung Bukan Berarti Suka Kekerasan

Julukan Kandangan Kota Petarung harus dimaknai secara bijaksana.

Petarung sejati bukanlah orang yang gemar mencari musuh atau melakukan kekerasan. Petarung sejati adalah mereka yang berani membela kebenaran, menjaga kehormatan, melindungi keluarga, mempertahankan budaya, dan memperjuangkan masa depan daerahnya.

Nilai seorang petarung terletak pada keberanian yang disertai akhlak, kekuatan yang disertai kebijaksanaan, serta ketegasan yang tetap menjunjung tinggi kemanusiaan.

Generasi muda Kandangan perlu mewarisi semangat tersebut melalui pendidikan, olahraga, seni bela diri, pelestarian budaya, dan prestasi.

6. Membangun Identitas Kandangan Kota Petarung

Sudah saatnya sejarah perjuangan dan warisan budaya Kandangan terus diperkenalkan kepada generasi muda.

Parang Bungkul, kuntau, kisah para pejuang, serta berbagai tradisi masyarakat Banua merupakan kekayaan identitas yang patut dijaga.

Kandangan tidak hanya dikenal melalui Ketupat Kandangan dan kekayaan kulinernya, tetapi juga melalui sejarah perjuangan dan karakter masyarakatnya.

Kita perlu membangun identitas daerah yang kuat dengan tetap menjaga nilai agama, adat, persaudaraan, dan budaya.

PENUTUP: DARAH PEJUANG, JIWA PEMBANGUN

Kandangan Kota Petarung adalah sebuah ungkapan tentang keberanian dan ketangguhan masyarakat Hulu Sungai Selatan.

Dari kisah perjuangan rakyat melawan penjajahan, warisan Parang Bungkul, seni bela diri kuntau, hingga perjuangan mempertahankan kemerdekaan, semuanya memberikan pelajaran tentang arti keberanian dan harga diri.

Namun, tantangan generasi sekarang bukan lagi mengangkat senjata untuk berperang, melainkan berjuang melalui ilmu pengetahuan, persatuan, agama, budaya, dan pembangunan.

Kandangan boleh dikenal sebagai Kota Petarung, tetapi petarung sejati adalah mereka yang berani menjaga kehormatan, membela kebenaran, dan membangun masa depan Banua.

Kandangan Kota Petarung: Berani dalam perjuangan, teguh dalam pendirian, santun dalam pergaulan, dan kuat dalam persatuan.

Rabu, 04 November 2026

Ayah Datu Kalampayan

Mengenai asal-usul tempat lahir Syekh Abdullah bin Abu Bakar (ayah dari Datu Kalampayan), terdapat beberapa versi riwayat sejarah di kalangan sejarawan dan zuriat (keturunan) Banjar:

Versi Wilayah Pahuluan (Kampung Jambu, Kandangan)

Dalam catatan sejarah lokal dan penelitian ulama Banjar (seperti Tim LP2M UIN Antasari), terdapat riwayat yang menyebutkan bahwa Syekh Abdullah bin Abu Bakar berasal dari daerah Pahuluan, tepatnya di Kampung Jambu, dekat kota Kandangan (Hulu Sungai Selatan). Beliau didatangkan ke istana/keraton Kesultanan Banjar di Martapura karena keahliannya dalam bidang pertukangan, sebelum akhirnya menetap di Lok Bangku / Lok Gabang hingga akhir hayatnya.

Selasa, 03 November 2026

Kamal Ansyari

Kamal Ansyari adalah seorang blogger, penulis, dan pemerhati sejarah lokal asal Kandangan, Kabupaten Hulu Sungai Selatan (HSS), Kalimantan Selatan.

Ia dikenal secara luas di ruang digital karena mendedikasikan tulisan-tulisannya untuk mendokumentasikan, merawat, dan memublikasikan sejarah, cerita rakyat, serta asal-usul budaya di tanah kelahirannya melalui platform blog pribadinya, Kandangan dan Kamal Ansyari.
Berikut adalah poin penting mengenai kontribusi dan tulisan Kamal Ansyari:
  • Pencetus Frasa Kebanggaan Lokal: Ia adalah penulis esai populer berslogan "Kandangan Kota Petarung: Bumi Para Pejuang, Berjiwa Kesatria, Pantang Menyerah". Tulisan ini menguraikan alasan historis mengapa karakter masyarakat Kandangan dikenal tangguh dan gigih menghadapi penindasan sejak era kolonial Belanda hingga revolusi fisik.
  • Pendokumentasi Tokoh Pejuang Daerah: Melalui catatan digitalnya, ia mengulas kisah pahlawan dan tokoh lokal dari bumi Antaluddin yang jarang masuk ke dalam buku sejarah nasional, seperti kisah kepahlawanan Tumenggung Antaluddin dalam Perang Banjar dan perjuangan Panglima Bukhari dalam peristiwa Amuk Hantarukung.
  • Pelestari Legenda dan Mitologi Amandit: Selain sejarah riil, Kamal aktif menulis cerita rakyat dan legenda yang hidup di masyarakat hulu sungai, seperti legenda Datu Naga Ningkurungan dari Loksinaga serta kisah kesaktian Datu Hamawang (Tumenggung Raksa Yuda).
Di dunia maya, ia juga dikenal dengan nama profil sosial media Kamal Rider atau Abahnya Naira dan Haikal, yang menetap di wilayah Antaluddin, Kandangan Utara. Lewat ketelatenannya menulis, arsip sejarah lisan dan lokal wilayah Hulu Sungai Selatan dapat dengan mudah diakses dan dipelajari oleh generasi muda saat ini.

KANDANGAN KOTA PETARUNG

 Kota Kandangan—ibu kota Kabupaten Hulu Sungai Selatan (HSS), Kalimantan Selatan—sering dijuluki sebagai "Tanah Para Jawara", Bumi Para Pejuang, atau diasosiasikan sebagai wilayah dengan tradisi keberanian, seni bela diri, serta sejarah perlawanan yang kuat.

Beberapa hal utama di balik identitas dan sejarah tersebut meliputi:

• Akar Sejarah dan Perlawanan: Kandangan memiliki catatan sejarah penting sebagai pusat perlawanan rakyat terhadap penjajahan kolonial (seperti peristiwa heroik Amuk Hantarukung) dan menjadi basis pergerakan Divisi IV ALRI Kalimantan.

• Tradisi Hulu Balang dan Wasi (Senjata Tajam): Masyarakat lokal zaman dulu memiliki tradisi kepemimpinan dan pengawalan oleh para hulu balang serta jawara yang lekat dengan kebiasaan membawa senjata tajam tradisional khas seperti Parang Bungkul (yang juga diabadikan dalam simbol daerah Hulu Sungai Selatan). Senjata ini dahulu dipandang sebagai simbol kehormatan, harga diri, dan pertahanan diri.

• Pusat Beladiri Kuntau: Kandangan dikenal sebagai salah satu tempat berkembangnya berbagai aliran seni bela diri tradisional Banjar, salah satunya perguruan Kuntau seperti "Jasa Datu" yang kemudian melahirkan banyak cabang perguruan di Kalimantan Selatan.

• Perubahan Zaman: Seiring perkembangan hukum, aturan membawa senjata tajam di tempat umum, serta modernisasi, tradisi membawa wasi di keseharian sudah sangat berkurang. Generasi muda di Kandangan kini lebih mengarahkan semangat juang tersebut ke dalam prestasi, pendidikan, dan pembangunan daerah.

Kandangan Kota Petarung

 Kota Kandangan—ibu kota Kabupaten Hulu Sungai Selatan (HSS), Kalimantan Selatan—sering dijuluki sebagai "Tanah Para Jawara", Bumi Para Pejuang, atau diasosiasikan sebagai wilayah dengan tradisi keberanian, seni bela diri, serta sejarah perlawanan yang kuat.

Beberapa hal utama di balik identitas dan sejarah tersebut meliputi:

• Akar Sejarah dan Perlawanan: Kandangan memiliki catatan sejarah penting sebagai pusat perlawanan rakyat terhadap penjajahan kolonial (seperti peristiwa heroik Amuk Hantarukung) dan menjadi basis pergerakan Divisi IV ALRI Kalimantan.

• Tradisi Hulu Balang dan Wasi (Senjata Tajam): Masyarakat lokal zaman dulu memiliki tradisi kepemimpinan dan pengawalan oleh para hulu balang serta jawara yang lekat dengan kebiasaan membawa senjata tajam tradisional khas seperti Parang Bungkul (yang juga diabadikan dalam simbol daerah Hulu Sungai Selatan). Senjata ini dahulu dipandang sebagai simbol kehormatan, harga diri, dan pertahanan diri.

• Pusat Beladiri Kuntau: Kandangan dikenal sebagai salah satu tempat berkembangnya berbagai aliran seni bela diri tradisional Banjar, salah satunya perguruan Kuntau seperti "Jasa Datu" yang kemudian melahirkan banyak cabang perguruan di Kalimantan Selatan.

• Perubahan Zaman: Seiring perkembangan hukum, aturan membawa senjata tajam di tempat umum, serta modernisasi, tradisi membawa wasi di keseharian sudah sangat berkurang. Generasi muda di Kandangan kini lebih mengarahkan semangat juang tersebut ke dalam prestasi, pendidikan, dan pembangunan daerah.

Minggu, 01 November 2026

Kandangan Kota Petarung

 

KANDANGAN KOTA PETARUNG

Bumi Para Pejuang, Berjiwa Kesatria, Pantang Menyerah

Oleh: Kamal Ansyari

Kandangan merupakan ibu kota Kabupaten Hulu Sungai Selatan, Provinsi Kalimantan Selatan. Kota ini tidak hanya dikenal dengan kekayaan kuliner seperti Ketupat Kandangan dan Dodol Kandangan, tetapi juga memiliki sejarah perjuangan, tradisi, serta karakter masyarakat yang kuat.

Ungkapan “Kandangan Kota Petarung” merupakan gambaran semangat dan kebanggaan terhadap jati diri masyarakat Kandangan. Petarung dalam konteks ini bukan sekadar orang yang berani mengangkat senjata atau bertanding secara fisik, melainkan pribadi yang memiliki keberanian, keteguhan hati, harga diri, dan semangat pantang menyerah dalam menghadapi kehidupan.

1. Kandangan dan Sejarah Perjuangan

Hulu Sungai Selatan memiliki catatan sejarah perjuangan rakyat Kalimantan Selatan dalam mempertahankan tanah air dan melawan penjajahan. Semangat perjuangan tersebut menjadi bagian penting dari identitas masyarakatnya.

Kisah perjuangan para pendahulu mengajarkan bahwa kemerdekaan, kehormatan, dan martabat bangsa harus diperjuangkan dengan keberanian dan pengorbanan.

Karena itu, semangat petarung hendaknya dimaknai sebagai keberanian membela kebenaran, menjaga kehormatan, dan memperjuangkan kehidupan yang lebih baik.

2. Parang Bungkul sebagai Identitas Budaya

Salah satu benda budaya yang memiliki hubungan dengan identitas Kabupaten Hulu Sungai Selatan adalah Parang Bungkul.

Parang Bungkul dikenal sebagai senjata tradisional khas daerah Kandangan dan menjadi salah satu unsur dalam lambang Kabupaten Hulu Sungai Selatan.

Keberadaan Parang Bungkul mengingatkan kita pada warisan budaya, keberanian, dan semangat masyarakat dalam menjaga jati diri daerah.

Parang bukan untuk mengajarkan kekerasan, tetapi menjadi pengingat sejarah dan tanggung jawab generasi penerus untuk melestarikan warisan leluhur.

3. Jiwa Petarung Masyarakat Kandangan

Jiwa petarung masyarakat Kandangan dapat diwujudkan melalui beberapa sikap:

  • Berani membela kebenaran dan keadilan.
  • Tidak mudah menyerah menghadapi kesulitan.
  • Menjaga kehormatan dan harga diri.
  • Memiliki semangat gotong royong.
  • Menghormati orang tua dan para pendahulu.
  • Menjaga adat istiadat dan budaya daerah.
  • Berani menghadapi tantangan zaman dengan ilmu pengetahuan.

Inilah makna petarung yang sesungguhnya: kuat dalam prinsip, santun dalam pergaulan, dan bertanggung jawab dalam kehidupan.

4. Kekayaan Budaya Kandangan

Kandangan mempunyai kekayaan budaya yang patut dibanggakan. Di antaranya:

  • Parang Bungkul sebagai warisan budaya daerah.
  • Ketupat Kandangan sebagai kuliner khas.
  • Dodol Kandangan sebagai makanan tradisional.
  • Bahasa Banjar sebagai identitas komunikasi masyarakat.
  • Tradisi keagamaan dan gotong royong.
  • Kekayaan budaya Dayak Meratus di kawasan Loksado, termasuk tradisi Aruh Ganal.

Kekayaan tersebut merupakan warisan yang harus dijaga dan diperkenalkan kepada generasi muda.

5. Generasi Muda sebagai Petarung Masa Kini

Pada masa sekarang, perjuangan tidak selalu dilakukan dengan senjata. Tantangan generasi muda jauh lebih luas, mulai dari pendidikan, ekonomi, teknologi, pergaulan, hingga menjaga moral dan akhlak.

Generasi muda Kandangan harus menjadi petarung dalam bidang pendidikan, ilmu pengetahuan, kewirausahaan, olahraga, kebudayaan, dan pengabdian kepada masyarakat.

Jangan sampai generasi penerus hanya bangga dengan sejarah masa lalu, tetapi tidak mampu menciptakan prestasi pada masa sekarang.

Petarung sejati adalah mereka yang mampu mengalahkan kemalasan, mengendalikan hawa nafsu, menjauhi narkoba, menjaga persatuan, serta memberikan manfaat bagi orang lain.

6. Penutup: Menjaga Nama Baik Kandangan

Kandangan bukan hanya sebuah kota, tetapi juga bagian dari perjalanan sejarah dan kebudayaan masyarakat Hulu Sungai Selatan.

Semangat “Kandangan Kota Petarung” hendaknya menjadi motivasi untuk membangun masyarakat yang berani, berkarakter, berbudaya, religius, dan berprestasi.

Mari kita jaga warisan leluhur, hormati sejarah perjuangan, lestarikan budaya, dan bangun masa depan dengan ilmu pengetahuan serta akhlak mulia.

KANDANGAN KOTA PETARUNG!

Bumi Para Pejuang, Berjiwa Kesatria, Pantang Menyerah!

Berani karena benar, kuat karena bersatu, dan bermartabat karena berakhlak.

KANDANGAN KOTA PETARUNG

 KANDANGAN – KOTA PETARUNG

Kandangan, Kabupaten Hulu Sungai Selatan, Kalimantan Selatan, memiliki sejarah panjang perjuangan dan keberanian masyarakatnya.

Julukan Kota Petarung dapat menjadi ungkapan kebanggaan terhadap:

Semangat Pejuang: mengenang perjuangan rakyat Hulu Sungai Selatan.

Keberanian: melambangkan keteguhan dan pantang menyerah.

Parang Bungkul: salah satu identitas budaya dan lambang daerah.

Jiwa Kesatria: menjunjung kehormatan, keberanian, dan tanggung jawab.

Harga Diri: menjaga adat, budaya, dan martabat daerah.